Putra Surya
Dari atas sini semua tampak indah dan menawan. Pegunungan terhampar membiru seperti dinding kokoh yang memagari bumi Kurusetra. Sungai meliuk-liuk membelah rimba belantara menghantarkan airnya dari belahan gunung ke persawahan petani di kaki bukit. Kabut yang sebagian menutupi pegunungan dan lembah dibawah sana menambah keindahan bumi ini. Ditambah dengan nyanyian burung dan sinar matahari yang terhalang oleh awan tipis, membuat hati terasa enggan beranjak melewatkan ke-eksotisan bumi Kurusetra.
Namun keindahan ini seperti sama sekali tidak menyentuh hati Dewi Kunti. Ia duduk termenung dibalik jendela kamarnya sambil memandangi bumi Kurusetra. Sebuah kamar yang indah, penuh permadani dan intan permata pun sepertinya tak kan menggemingkan lamunannya.
Apa sebenarnya kesaktian ilmu Adityaredahya ini. Bisik Dewi Kunti dalam hati. Mengapa Resi Durwasa mewariskan kesaktian ini untuk ku hanya dengan alasan karena dia puas akan jamuanku yang ku suguhkan padanya kemarin. Apakah akan berguna bagiku atau sebaliknya? Dengan kesaktian ini aku bisa memanggil Dewa apa saja yang kuinginkan dan Dewa itu akan memberikan anugerah padaku. Jadi penasaran, anugerah apa yang akan diberikan padaku. Ah… barangkali jika aku memanggil Dewa Surya (Matahari) anugerah yang diberikan padaku akan hebat!
Dewi Kunti menatap matahari. Merapal mantera yang telah diberikan oleh Resi Durwasa. Sejenak Dewi Kunti terdiam, menunggu apa yang akan terjadi. Namun beberapa saat lamanya tidak ada tanda-tanda sesuatu akan terjadi. Rasa penasarannya semakin kuat. Kini dengan sungguh-sungguh ia menatap matahari dan kembali merapal mantera itu. Tetap. Tidak terjadi apa-apa.
Dalam hati Dewi Kunti mengumpat kesal. Apakah Resi Durwasa telah menipuku? Tidak mungkin, seorang Resi adalah orang yang suci. Tidak mungkin ia menipuku. Maka sekali lagi dengan niat yang sungguh-sungguh kembali Dewi Kunti menatap matahari dan merapal mantera. Sesaat angin, sungai, daun, pohon semuanya berhenti bergerak. Tidak ada suara yang terdengar. Tidak ada pergerakan yang terlihat. Waktu seolah berhenti. Dewi Kunti mulai ketakutan. Apa yang akan terjadi. Tanpa sadar ia memanjatkan doa kepada Sang Hyang Widi agar dirinya dilindungi dari segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.
Tiba-tiba cahaya matahari semakin terang memancar kearah Istana Kurusetra, ke arah jendela kamar Dewi Kunti. Terangnya menyilaukan mata. Dewi Kunti tak mampu lagi menatap matahari. Ia menutup matanya sambil merasakan terang yang menghangatkan seluruh tubuh dan ruangan kamar Istananya. Tak seberapa lama, terang itu mulai meredup. Dewi Kunti mulai berani membuka matanya.
Kini didepannya telah berdiri tegap sosok manusia yang seluruh tubuhnya bercahaya. Dewi Kunti berusaha menatap wajah sosok itu namun cahaya dari wajahnya sangat terang seperti pancaran sinar matahari. Maka sadarlah Dewi Kunti bahwa yang berdiri di depannya adalah Dewa Matahari. Hatinya berdebar, gembira sekaligus takut. Berdebar dengan apa yang telah dijanjikan oleh Resi Durwasa ternyata benar. Gembira bahwa Dewi Kunti pasti akan mendapat anugerah. Dan takut, anugerah apa yang akan di terimanya.
Segera Dewi Kunti berlutut menyembah Dewa Surya.
“Terimalah sembah hamba, Dewa Surya.”
“Kuterima sembahmu, Kunti. Terimakasih telah memanggilku. Sudah lama aku ingin mengutus puteraku untuk menjelajahi bumi ini. Baru sekarang aku mendapatkan kesempatan itu.”
“Maaf Dewa Surya, hamba tidak mengerti maksud kata-kata Dewa Surya.”
“Kunti, kunti. Engkau tahu, bahwa dengan merapal mantera itu dan menatap matahari artinya engkau telah memintaku untuk menanamkan janin anakku ke dalam rahimmu. Itulah anugerahku yang akan kuberikan padamu”
“Maaf Dewa Surya. Hamba tadi hanya penasaran saja ingin membuktikan ucapan Resi Durwasa. Hamba sama sekali tidak menyangka bahwa benar anugerah itu adalah seorang anak yang harus hamba kandung. Jika boleh, sudilah kiranya Dewa membatalkan anugerah itu. Lagi pula hamba masih perawan dan belum bersuami, apa kata rakyat Kurusetra jika melihat hamba ini hamil”
“Dewi Kunti. Anugerahku ini tidak ada seorangpun yang boleh menolak. Apalagi engkau Puteri Kurusetra. Jangan kuatir aku akan membantumu segera melahirkan anakku dan aku akan memulihkan keperawananmu setelah melahirkan anakku. Bersiaplah”
Belum lagi Dewi Kunti menarik nafas, setelah berucap kata yang terakhir, dari tubuh dewa surya kemudian keluar sinar putih keemasan yang bergulung dan masuk ke dalam perut Dewi Kunti. Dewi Kunti terkejut. Namun tak bisa berbuat apa-apa hingga gulungan cahaya putih keemasan itu hilang meresap di perutnya. Dia bingung. Sejenak dia tidak bisa berfikir dan memahami apa yang baru saja terjadi. Namun sesaat kemudian ada gejolak dari dalam perutnya, dari dalam rahimnya. Perlahan tapi pasti ia rasakan perutnya membesar dan ia bisa merasakan makhluk hidup dalam rahimnya. Ia mengandung bayi! Dan .. sebentar saja, Dewi Kunti merasakan kesakitan yang luar biasa.
“Aaaah… Sakit!”
Sosok tubuh Dewa Surya bergerak mendekati Dewi Kunti yang terbaring kesakitan di permadani lantai kamarnya. Ia memegang tangan Dewi Kunti dan tangan satu lagi memegang perut Dewi Kunti yang telah terlihat besar. Aneh. Rasa sakit itu hilang. Perlahan-lahan Dewi Kunti bisa merasakan makhluk hidup dari dalam rahimnya keluar. Penasaran ia mengangkat mukanya dan melihat makhluk hidup apa yang keluar dari dalam dirinya. Bayi! Benar seorang bayi laki-laki! Bayi yang sehat, gemuk, bersih dan kulitnya putih keemasan. Belum hilang keheranan Dewi Kunti, dari tangan Dewa Surya keluar sinar tipis yang perlahan merambat menuju pangkal pahanya. Apalagi ini? Bisik Dewi Kunti dalam hati. Ia merasakan ada pergerakan perlahan di kemaluannya. Dewi Kunti mulai takut.
“Jangan Panik, Kunti. Aku memulihkan keperawananmu. Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu.”
Dewi Kuntipun lega. Dia menghela nafas panjang. Semua telah selesai. Kini di depannya tergolek sosok bayi mungil yang bergerak-gerak lincah. Ia ingin sekali menggendong dan memeluknya. Namun ia heran, bayi ini telah bersih dari noda darah. Darah yang tadi berceceran di permadaninya juga sudah bersih seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Yang membuktikan bahwa yang baru saja telah ia alami adalah keberadaan bayi itu.
Dewa Surya! Kemana dia. Dia juga telah menghilang!
Dewi Kunti beranjak dari tempat duduk nya dan hendak meraih bayi mungil itu. Namun sebuah sinar perak keputihan tiba-tiba menyelimuti tubuh bayinya. Dan tak seberapa lama kemudian sinar itu perlahan menghilang, meresap ke dalam tubuh bayinya dan berubah menjadi sebuah pakaian yang menutupi bayi itu, juga anting-anting melekat di telinganya.
“Terimakasih Kunti, engkau telah membantuku mengutus putraku ke bumi Kurusetra. Jangan khawatir. Engkau tidak perlu repot mengurus dan melindungi putraku. Karena pakaian yang ku kenakan padanya akan mengurus dan melindunginya. Tidak akan ada senjata apapun yang dapat menembus kulitnya.” Terdengar suara Dewa Surya di telinga Dewi Kunti. Dewi Kunti hanya menunduk menyembah ke arah matahari.
Dewi Kunti berdiri menatap keluar jendela sambil menggendong erat putra Surya yang baru ia lahirkan. Segalanya telah menjadi normal sekarang. Sungai mengalir. Burung bernyanyi. Angin bergerak membawa daun-daun kering yang jatuh dari pohonnya. Dewi Kunti menarik nafas lega. Namun yang menjadi pikirannya adalah, bagaimana menyembunyikan bayi ini agar tidak diketahui oleh Ayah maupun Ibunya. Apalagi rakyatnya.
****
Angin dingin malam itu benar-benar menusuk hingga ke tulang. Apalagi usai hujan sore tadi menambah udara dingin pegunungan bumi Kurusetra menjadi basah. Suasana seperti ini menyebabkan orang malas keluar rumah. Terang saja, disegala penjuru bumi Kurusetra terlihat sepi. Kecuali prajurit-prajurit istana yang tegab berdiri di tempatnya masing-masing, memastikan keamanana Kurusetra tetap terjaga.
Dibalik kegelapan. Diantara pohon-pohon sesosok bayangan berlari cepat. Seluruh tubuhnya terbungkus kain hitam, termasuk mukanya. Ditangannya ia memeluk gendongan yang cukup besar. Seperti sudah mengenal hutan itu, ia terus berkelebat berlari dengan cepat. Menghindari kayu yang melintang. Melompat menghindari lubang serigala dan terkadang ia melompat dari pohon ke pohon lain. Ia menuju tengah hutan! Kecepatan larinya luar biasa. Tak seberapa lama, jarak yang biasa ditempuh sehari perjalanan itu dapat dijangkaunya. Ia tiba disebuah sungai besar di tengah hutan.
Sejenak sosok hitam itu melihat ke kanan, ke kiri, ke depan dan kebelakang. Memastikan tidak ada yang melihat atau yang mengikutinya. Ia mulai membuka kain penutup mukanya, juga gendongan di tangannya.
Dewi Kunti! Dan… bayinya.
Dewi Kunti melepaskan gendongannya dan mengambil bayi dari keranjang kecil yang tadi digendongnya. Ia memeluk bayi itu dan menciuminya sambil meneteskan air mata.
“Maafkan Ibu Radhea. Maafkan Ibu”
Dewi Kunti kemudian kembali memasukkan bayinya, Radhea ke dalam bungkusan kain hangat lalu memasukkannya kembali ke dalam keranjang. Dan bayi di dalam keranjang itu ia lepaskan kesungai besar tengah hutan Kurusetra. Perlahan tapi pasti, keranjang yang membaya Radhea hanyut mengikuti arus aliran sungai. Tidak ada suara dari dalam keranjang. Tangisan atau apapun. Seolah bayi itu sudah sangat paham apa yang dirasakan Ibunya. Tiba-tiba kilat menyambar dan disusul dengan suara halilintar yang menggelegar menggema ke seluruh hutan.
Dewi Kunti terkejut dan buru-buru menutup mukanya dengan kain hitam dan kembali melesat diantara pepohonan hutan Kurusetra.
Putra Kusir
Putra Kusir
Sepuluh Tahun kemudian.
Adirata, abdi Istana Kurusetra bekerja sebagai kusir Istana. Sudah menjadi tugasnya untuk mengantarkan semua kaum Ksatria di dalam Istana. Siang ini Adirata sedang istirahat di bilik rumahnya yang kecil dipinggiran Istana. Prabu Destarastra memang menempatkan Adirata di tempat itu supaya jika sewaktu-waktu diperlukan Adirata bisa cepat datang ke Istana. Sambil menikmati wedang jahe buatan Radha, istrinya, Adirata memperhatikan Basusena yang sedang bermain di pelataran rumahnya bersama anak-anak kusir lainnya. Seperti anak-anak lainnya, Basusena bermain permainan yang paling digemari oleh anak-anak Kurusetra. Permainan berperang. Dalam perhatiannya, Basusena selalu tampil sebagai anak yang tidak terkalahkan dalam permainan itu. Baik teknik berlari mengejar dan dikejar lawan maupun teknik melempar anak panah yang terbuat dari batang bunga alang-alang. Sejak Adirata menemukan anak itu di pinggir sungai Aswa, anak itu telah mengenakan pakaian perang, juga anting-anting ditelinganya. Dan yang membuat Adirata heran, pakaian itu tidak bisa dilepas dari tubuh Basusena. Namun demikian pakaian itu sepertinya bertumbuh mengikuti bentuk pertumbuhan tubuh Basusena. Banyak hal yang membuat Adirata terheran-heran melihat Basusena.
Pernah saat Basusena berumur dua tahun, Rada sedang menggendong Basusena sambil membuat wedang jahe dan ubi rebus. Tanpa sengaja wedang jahe yang baru mendidih itu mengenai tangan Basusena saat dituang ke dalam cangkir bambu. Namun yang ditakutkan kedua orang tua itu tidak terjadi. Tangan Basusena tidak mengalami cidera apapun. Basusena hanya menangis sebentar dan kemudian kembali diam dan tenang di pelukan Ibu (angkat)nya.
“Awas Basusena..!!”
Terdengar teriakan anak-anak, membuyarkan lamunan Adirata. Segera ia melihat kearah Basusena. Adirata masih sempat melihat sebuah anak panah melesat cepat mengarah punggung Basusena. Basusena sendiri diam dengan mimik muka penuh tanda tanya kearah kawan-kawan bermainnya. Tak khayal lagi, anak panah itu tepat mengenai punggung Basusena. Adirata segera melompat dari tempat duduknya dan menghambur kearah Basusena.
Semua diam. Kawan-kawan sepermainan Basusena pun diam dengan mata melotot dan mulut sedikit terbuka. Termasuk Adirata. Panah yang mengenai punggung Basusena tergeletak ditanah, patah menjadi dua. Basusena meraba punggungya dan membalikkan badan. Ia memungut anak panah itu dan menghampiri Ayahnya dengan perlahan.
“Ayahanda, maafkan. Apakah Basusena melakukan kesalahan?” tanya Basusena sambil berjongkok ia menyerahkan anak panah kepada Ayahnya.
“Tidak anakku. Engkau tidak bersalah.” Sahut Adirata sambil memeluk anaknya. Kembali Adirata melihat sebuah keajaiban yang menimpa anaknya. Kali ini anak panah tidak bisa menembus kulitnya. Apa Basusena memang tidak bisa ditembus senjata? Ia jadi merinding membayangkan bagaimana jika anak panah tadi mengarah ke anak-anak yang lain. Tentu kejadiannya akan lain.
“Anak-anak. Untuk hari ini mainnya cukup ya. Ayo pulang ke rumah masing-masing!”
Anak-anak itu menuruti perkataan Adirata. Mereka takut, jangan-jangan ada anak panah lagi yang lain yang mungkin saja akan mengarah ke tubuh mereka.
“Ada apa kanda?” suara perempuan menyapa dari belakang Adirata.
“Ini Dina, ada anak panah yang nyasar. Mengenai tubuh anak kita. Tapi coba kamu lihat. Tidak terjadi apa-apa dengan Basusena.” Jawab Adirata sambil memperlihatkan anak panah yang telah menjadi dua kepada perempuan di belakangnya, Radha, Istrinya. Kemudian Radha memeluk Basusena dengan erat.
“Kamu gak apa-apa, nak?”
Basusena hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
“Anak panah dari mana itu, Kanda?”
“Sepertinya dari Kaputren. Lihat ukirannya. Ini adalah anak panah kerajaan yang biasa digunakan anak-anak Kurawa dan Pandawa berlatih memanah.”
“Itu bisa bahaya bagi anak-anak lain, Kanda. Kanda harus menemui Resi Drona, guru mereka. Beritahu agar berhati-hati berlatih. Karena anak panah mereka telah mengenai anak kita.”
Adirata tidak menjawab kata-kata Istrinya. Ia hanya membimbing Istri dan anaknya masuk ke dalam rumah.
“Kita ini hanya abdi rendahan, dinda. Mana mungkin kanda berani lancing dengan memberitahukan hal ini.”
“Tapi perbuatan mereka bisa membahayakan anak-anak yang tinggal disini, kanda.”
“Aku tahu. Aku akan coba bicara pada Resi Drona. Ia orang yang arif. Barangkali ia bisa mengerti.” Jawab Adirata sambil menghabiskan wedang jahe dibalai-balai rumahnya. Sedangkan Istrinya mengelus-elus kepala Basusena yang terdiam dan tampak berfikir sambil memandangi anak panah yang mengenainya.
Hinaan dan Perjuangan
Sejak kejadian itu, Adirata semakin yakin dengan kemampuan anaknya. Ia yakin anaknya memang benar-benar tidak mempan senjata. Ia yakin anaknya akan mampu menjadi ksatria sakti mandraguna di bumi Kurusetra ini dan tentu saja mampu mengangkat harkat dan martabatnya di istana. Hal inilah yang memotivasinya untuk berani mendaftarkan Basusena, anaknya berguru pada Resi Drona. Meskipun ia tahu, hal itu tidak mungkin. Karena ia bukan dari kaum ksatria.
Namun demi melihat kelebihan yang dimiliki anaknya, hari itu ia membawa Basusena menuju Kaputren Kurusetra. Ia yakin dapat meyakinkan Resi Drona agar bersedia menerima Basusena menjadi muridnya.
Alun-alun Kaputren.
Seperti biasa alun-alun ini selalu dipenuh anak-anak seusia Basusena. Mereka sedang melakukan latihan ilmu kanuragan. Memasang kuda-kuda. Belajar memukul. Menendang. Dan bahkan ada yang mencoba meloncat. Terbang! Basusena terkagum-kagum dengan kemampuan mereka. Dalam permainan tempur yang biasa ia mainkan dengan teman-temannya, ia tidak pernah bisa terbang. Teman-temannya pun tidak. Basusena semakin bersemangat untuk berguru di Kaputren itu. Ia berlari kecil mendahului Ayahandanya dan berdiri di depan barisan anak-anak yang sedang berlatih. Tidak terlalu banyak anak-anak disini. Hanya… kurang lebih sepuluh orang. Basusena memperhatikan anak-anak yang sedang berlatih satu per satu. Yang paling menarik perhatiannya adalah seorang anak bertubuh gempal dan tinggi besar. Ia tidak gemuk tetapi tubuhnya memang besar. Sepertinya ia cocok dijadikan teman bermain tempur. Enak sekali menghantam tubuhnya yang gempal dan besar itu. Ada dua anak lagi yang menarik perhatiannya. Dua anak itu kembar. Mereka tampak lebih pendiam dibanding dengan anak gempal dan seorang anak lagi disamping sigempal itu. Basusena semakin tak sabar ingin ikut berlatih dengan mereka. Ia ingin memperlihatkan bagaimana ia dapat mengalahkan mereka. Seperti ia mengalahkan teman-teman bermainnya.
“Basusena. Kemari, nak!!” ayahnya memanggil.
Basusena cepat menoleh kearah datannya suara dan berlari kecil mendapatkan ayahnya sedang berbicara dengan Resi Drona. Resi Drona adalah salah seorang guru Ilmu Kanuragan yang terhebat di Kurusetra.
“Ini Basusena, anak hamba, Resi.” Kata Adirata sambil membungkuk.
“Wah, sepertinya engkau sudah yakin bahwa aku akan menerima anakmu Adirata. Sehingga engkau mengenakan pakaian perang padanya”
Adirata tidak menjawab. Ia hanya mengangguk.
“Adirata. Engkau tahu aturan, bukan? Di perguruanku ini hanya anak-anak Ksatria yang boleh berguru. Lainnya. Tidak! Sedangkan engkau Adirata, hanya abdi dalem dari kaum rendahan. Engkau cuma kusir. Maaf Adirata, aku tidak bisa menerima anak kusir ini.” Jawab Resi Drona disambut gelak tawa anak-anak yang berbaris di depan mereka.
“Anak kusir nggak boleh disini. Lebih baik dia memandikan kuda kami untuk jalan-jalan.” Sahut seorang anak dari arah belakang Basusena.
Basusena menoleh kearah datangnya suara. Disana seorang anak berdiri dengan sombong menyilangkan tangannya didepan dada dengan sebuah senyum yang mengejek. Disampingnya anak yang berbadan gempal juga juga memandanginya dengan senyum yang tak kalah menyakitkan. Hati Basusena sangat panas. Disebut anak kusir. Disebut bukan anak ksatria.
Basusena mengepalkan genggaman tangannya. Ia sedang menahan gejolak emosi didalam dadanya. Ingin rasanya ia melumat mulut anak yang baru saja menghinanya. Namun tangan Ayahandanya memegang pundak memberi tanda agar bersabar.
“Resi. Tolong dengarkan saya. Resi memang benar. Saya hanyalah abdi dalem rendahan. Seorang Kusir Istana. Tapi saya berani jamin, anak saya memiliki potensi besar yang tidak akan mengecewakan Resi.” Adirata memohon. Kali ini ia bersimpuh di depan Resi Drona. Basusena terkejut melihat Ayahanda yang dicintai dan dihormatinya itu bersimpuh di depan orang yang menghinanya.
“Adirata. Setiap orang pasti membanggakan anaknya dan mengatakan bahwa anaknya memiliki potensi yang luar biasa. Tapi peraturan tetaplah peraturan Adirata. Aku tidak bisa menerima anakmu. Pergilah. Aku harus kembali bekerja. Lihat, anak-anak itu sedang menungguku.”
Merasa usahanya tidak mungkin lagi berhasil. Adirata akhirnya bangkit berdiri dan menarik nafas panjang. Ia membungkuk sebentar yang dibalas dengan bungkukan lemah dari Resi Drona. Kemudia Adirata mundur beberapa langkah dan berbalik pergi dari alun-alun kaputren diikuti oleh Basusena.
“Apa yang kau lakukan disini, wahai anak kusir?! Pergilah cari makan untuk kuda-kuda kami!”
Masih anak yang tadi yang bersuara. Basusena melirik tajam kearah anak yang berdiri dengan sombongnya. Akan kubalas, suatu saat. Bisik Basusena dalam hati.
“Arjuna! Hentikan kata-katamu!” Resi Drona bersuara.
Arjuna. Arjuna… ya, arjuna. Akan kuingat namamu. Arjuna. Bisik Basusena dalam hati sambil meninggalkan langkah terakhir di halaman Kaputren mengikuti langkah ayahandanya.
Dalam hati Adirata menangis. Ia tahu, anaknya pasti kecewa. Kecewa karena gagal masuk perguruan itu. Juga kecewa karena ayahnya hanyalah seorang kusir istana.
****
Hari demi hari berlalu sedemikian cepat. Kedamaian tetap melindungi negeri Kurusetra. Meskipun terjadi beberapa kesenjangan social tapi hal itu tidak menimbulkan hal yang dapat merusak tatanan Negara. Barangkali memang demikianlah sudah diatur dari politik dan management kenegaraan Kurusetra.
Sejak kejadian di alun-alun kaputren itu. Basusena memperlihatkan sedikit perubahan pada tingkah lakunya. Ia menjadi anak yang sombong dan ankuh terhadap teman-temannya. Namun juga menjadi anak yang sangat berhati lembut yang suka memberi dan membantu kesulitan teman-temannya. Ia angkuh dan sombong dan menyebut dirinya sebagai pemimpin dari anak-anak kusir. Ia juga berhati lembut yang sangat dermawan, ia suka memberi makan pengemis dan anak-anak yang kurang bernasip baik meskipun dirinya sendiri belum makan. Ia rela memberikan mainan kesayangan satu-satunya kepada teman yang lebih membutuhkan. Pernah suatu hari seluruh anggota keluarganya tidak makan oleh karena semua makanan yang dimasak Ibundanya ia berikan kepada para pengemis di Ibu kota. Ia tidak tega melihat mereka kelaparan di jalan-jalan. Begitu katanya ketika ditanya oleh ayahandanya mengapa ia melakukan itu semua.
Kini ada sebuah kebiasaan Basusena yang membuat heran Ibundanya. Setiap pagi ia permisi pergi dan baru pulang ketika matahari hendak terbenam. Malam harinya setelah makan malam Basusena latihan di belakang rumah. Ia melakukan gerakan-gerakan teknik menendang, teknik memukul teknik menghindar dan lain sebagainya.
Suatu pagi.
“Bunda, Basusena mohon pamit.” Sambil memeluk Ibundanya.
“Basusena, sebenarnya kamu pergi kemana setiap hari? Apa kamu berguru pada seseorang?” tanya Radha penasaran.
“Tidak, Bunda. Basusena tidak berguru. Basusena hanya meniru.”
“Maksudmu?”
“Maaf Bunda. Anak Kusir seperti Basusena tidak boleh berguru di Istana. Oleh karena itu, Basusena hanya bisa melihat mereka latihan dan mengingat-ingat setiap gerakan yang diberikan oleh Resi Drona dan beru bisa mempraktekannya di rumah” ujar Basusena.
Mendengar itu Redha terharu. Ia memeluk anaknya erat.
“Maafkan Ibunda dan Ayahanda ya, nak.”
“Ibunda dan Ayahanda tidak bersalah. Memang sudah beginilah takdir yang harus kita jalani. Tenang saja Bunda, Basusena akan menjadi seorang ksatria.” Kata Basusena mantap.
Radha hanya bisa menganggukan kepala dan mengecup kening anaknya. Setelah itu Basusena membungkuk hormat dihadapan Ibunya dan bergegas pergi meninggalkan rumahnya.
Ia menyusuri jalan keraton menuju alun-alun. Setibanya dialun-alun ia mulai berjalan perlahan dan menuju sebuah pohon beringin yang pendek dan lebat di sudut tembok istana. Dari sana ia bisa mengawasi jalannya latihan tanpa sepengetahuan siapapun. Segala gerakan dan setiap kata-kata dari Resi Drona ia catat dan ingat baik-baik dalam pikirannya. Tidak satu katapun ia lupakan. Tidak satu gerakanpun ia lupakan. Semua tersimpan rapih dalam ingatannya.
Namun hari ini ada yang beda dengan latihannya. Kali ini mereka membawa.. busur dan anak panah!
“Setiap lengan yang memegang busur panah harus kuat, tidak boleh kendor sedikit pun!” kata Resi Drona.
“Setelah anak panah disangkutkan pada busur, tarik kuat ke belakang. Pusatkan pikiran dan pandangan kalian pada satu titik sasaran. Usahakan jangan tangan yang memegang busur jangan bergerak saat kalian melepas anak panah”
“Lepaskan!”
Wus..!
Wus..!
Wus..!
Kurang lebih sepuluh anak panah melesat kesasaran masing-masing. Sebuah papan bulat yang ditengah-tengahnya berwarna merah, bulat.
Tep!
Tep!
Tep!
Suara anak panah menancap di papan sasaran. Ada yang dipinggir papan. Ada yang tidak mengenai papan. Ada yang mengenai pinggiran warna merah. Dan ada juga yang mengenai tepat ditengah bulatan warna merah. Hal itu mengejutkan hati Basusena. Ia terkagum dengan kamampuan anak itu. Aku tidak boleh kalah. Bisiknya dalam hati.
“Bagus Arjuna. Bidikanmu tepat sasaran.!”
Semua anak bertepuk tangan.
“Kita mulai lagi!” kata Resi Drona.
Sehari itu Basusena memperhatikan anak-anak itu berlatih memanah. Rata-rata mereka sudah bisa memanah, Arjuna memiliki keterampilan yang lebih. Ia jauh lebih pandai dari yang lainnya. Ya, Arjuna. Anak yang telah menghinanya. Anak yang telah merendahkannya. Suatu saat pasti kubalas hinaanmu itu Arjuna. Bisiknya dalam hati.
Tanpa disangka-sangka, tiba-tiba Arjuna melemparkan pandangannya ke arah beringin pendek tempat ia bersembunyi. Jantungnya berdegub keras. Celaka, aku ketahuan! Bisiknya dalam hati. Dan benar, Arjuna segera mengarahkan busur dan anak panahnya ke arah Basusena. Basusena yang masih duduk dibalik pohon beringin menunggu apa yang akan terjadi dengan hati berdebar kencang.
Melihat Arjuna mengarahkan panahnya ke sasaran lain, anak-anak dan Resi Drona memandang kea rah Arjuna dan memperhatikan apa yang dilakukan anak itu.
Anak panah melesat cepat ke arah Basusena. Memotong beberapa daun beringin besar ditengah alun-alun yang terjuntai kebawah.
Zep!!
Arjuna menatap pohon beringin kecil tanpa berkedip. Ia sendiri tidak tahu pasti panahnya mengenai sasaran atau tidak. Demikian juga anak-anak yang lain. Semua menanti dengan tatapan mata yang tidak lepas dari pohon beringin kecil itu dengan penuh tanda tanya.
Tiba-tiba Basusena berdiri dari balik beringin itu dengan anak panah di telapak tangannya. Dan tiba-tiba Basusena meleparkan anak panah itu ke arah Arjuna. Arjuna terkejut, ia hampir tidak bisa mengelak namun sebuah tangan bergerak cepat menangkap anak panah itu. Arjuna tidak menyangka orang itu bisa melemparkan anak penah sedemikian kuat dan cepat ke arahnya.
“Siapa anak itu? Sepertinya ia tidak asing”
“Dia putra Adirata.” Kata Resi Drona yang sambil mengembalikan anak panah yang ditangkapnya. Sedangkan Basusena telah pergi melarikan diri dari tempat persembunyiannya.
“Izinkan kami mengejarnya Guru,” kata anak yang berbadan gempal dan padat.
“Tidak. Jangan Bimasena. Biarkan dia pergi. Dia tidak melakukan kesalahan apapun, dia hanya memperhatikan kita latihan”
“Hari ini cukup disini, anak-anak. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Resi Drona yang disambut helaan nafas lega anak-anak. Mereka serempak membungkuk hormat yang dibalas dengan bungkukan pelan Sang Guru kemudian anak-anak itu membubarkan diri pergi ke tempat masing-masing.
Sementara itu, Basusena terus berlari meninggalkan Ibu kota dan terus keluar kota. Ia berusaha untuk meninggalkan tempat itu jauh-jauh sebelum mereka mengejar. Tiba diperbatasan kota ia berbelok ke kiri menuju sebuah hutan. Ditepian hutan Basusena menghentikan larinya. Ia terengah-engah dan menoleh kebelakang. Yakin tidak ada yang mengikuti, ia menghela nafas panjang dan duduk dibawah pohon rindang. Basusena mengatur nafasnya perlahan-lahan hingga mulai tenang. Belum lagi ketenangan dan tenaganya pulih, Basusena dikejutkan dengan mendaratnya sebuah anak panah berwarna hitam di depannya. Ia berdiri dan bersiaga. Memasang kuda-kuda seperti yang telah ia latih selama ini. Tiba-tiba beberapa bayangan berkelebat dari atas pohon dan mendarat di hadapannya, mengepungnya. Basusena terkejut bercampur takut. Tapi sebagai seorang laki-laki ia tidak boleh takut, apalagi memperlihatkan ketakutannya. Maka Basusena berdiri dengan sombongnya sambil menyilangkan kedua tangan didepan dada.
“Raden, serahkan semua harta yang kau bawa!” teriak orang yang berdiri tepat didepan Basusena. Orang itu mengenakan pakaian seperti beberapa temannya. Serba hitam dan seluruh muka ditutupi dengan kain hitam juga, hanya mata saja yang kelihatan.
“Kalian maling, rampok atau apa? Aku tidak membawa perhiasan, harta atau apapun. Pergilah” jawab Basusena dengan nada sombong.
“Bocah, sudah bosan hidup ya? Tidak usah ngeyel, cepat serahkan anting-anting emasmu!” teriak yang disebelah kanan Basusena.
“Aku tidak bisa melepasnya.” Jawab Basusena dingin.
“Aaaah….!!!” Orang yang disebelah kiri Basusena berteriak berang dan menerjang. Basusena melirik ke arah kirinya, sebuah kaki besar melesat menuju kepalanya. Dan ..
Buk!
Basusena berdiri membelakangi orang yang menyerangnya, siku tangannya melesak ke perut orang yang menyerangnya. Mata orang itu melotot. Terdengar lenguhan panjang dari mulutnya yang bertengger di bahu kanan Basusena. Melihat hal itu, teman-teman perampok lainnya menjadi gentar.
“Siapa anak ini. Gerakannya cepat sekali” bisik-bisik diantara mereka.
Tidak hanya disitu. Basusena tiba-tiba memegang leher baju perampok dipundaknya dan dengan sekali sentakan, perampok itu berputar dan terbanting didepannya.
Buk!
Uuugh…
Melihat itu perampok di depannya mengarahkan busur panah dengan anak panah yang siap dilepaskan. Basusena bergetar. Ia takut jangan-jangan ia tak mampu menangkis atau menangkap anak panah itu atau bahkan menghindar mengingat jaraknya hanya beberapa langkah dihadapannya. Namun demikian, Basusena tetap bersikap tenang.
Wuszz..!
Anak panah melesat. Jauh lebih kuat dan cepat dibandingkan anak panah Arjuna tadi. Namun cahaya anak panah itu masih bisa ditangkap oleh mata Basusena. Ia hanya menggeser posisi berdirinya ke arah kanan. Dan anak panah itu berlalu tepat disebelah kiri kepalanya. Melihat hal itu, para perampok semakin berang. Semaua mencabut anak panah dan mengarahkannya ke Basusena. Empat anak panah sekaligus! Bisakah ia menghindarinya?
Wuzz!
Empat anak panah melesat bersamaan seolah ingin melalap tubuhnya mentah-mentah. Basusena dapat melihat empat cahaya melaju cepat ke arah beberapa bagian tubuhnya. Satu cahaya ke arah kepala, dua ke dada dan satu lagi ke perut. Dengan cepat Basusena memutar tubuhnya ke kanan, empat anak panah itu melesat tipis disisi sebelah kiri tubuhnya. Belum lagi Basusena mengambil nafas, sebuah kilatan cahaya kembali menderanya tepat dikepala. Ia merunduk menghindari anak panah yang tiba-tiba itu. Sedang ia merunduk, dari arah bawah ia sudah disambut oleh kilatan lain, refleks Basusena melentingkan tubuhnya kebelakang membuat gerakan salto kebelakang sehingga anak panah itu hanya lewat diatas perutnya. Ia segera membenahi kuda-kudanya dengan deguban jantung yang tak karuan. Tidak bisa seperti ini. Bisiknya dalam hati. Jika aku terus menghindar aku bisa celaka. Maka dengan cepat ia melesat ke arah pohon besar disampingnya dan menggunakan pohon besar itu sebagai pijakan pertama untuk penyerangannya ke kawanan perampok yang mengeroyokya. Para perampok yang tidak menyangka mendapat serangan balik itu tidak sempat memasang anak panah pada busurnya, dan..
Buk!
Perampo pertama ambruk dengan mukanya yang merembeskan darah dari mulut.
Buk!
Perampok kedua terpental beberapa meter dan membentur semak belukar dan pohon besar.
Buk!
Perampok ketiga melenguh panjang memegangi perut dan bersandar pada pohon dibelakangnya.
Buk!
Perampok ke empat terjungkal berkali-kali dan setelah itu tidak bergerak lagi.
Melihat apa yang telah dilakukannya, Basusena bertambah percaya diri. Ia tersenyum bangga. Kemudian ia mengambil busur dan anak panah milik salah satu perampok.
“Ampun.. maaf Raden. Jangan bunuh kami.” Mohon salah satu perampok.
“Tenang saja, paman. Aku tidak akan membunuh kalian. Malah aku berterimakasih karena telah membantuku mempraktikan semua yang kulatih.” Jawab Basusena sambil tersenyum sombong.
Basusena memandang keatas. Ke arah buah pohon besar disampingnya. Jauh diujung atas pohon terdapat sebuah buah yang menggantung bebas. Ia membidikan panahnya ke arah buah itu. Dan
Wusss!
Tep!
Anak panah Basusena tepat menembus buah itu yang menyebabkan buah itu terlepas dari tangkainya. Buah itu melayang jauh terbawa ke lintasan anak panah Basusena. Basusena tersenyum puas. Perampok yang melihat hal itu tambah ketakutan disamping kaki Basusena yang baru berumur Lima belas tahun.
Raja Angga
Alun-alun kota Histanapura, Kerajaan Kurusetra penuh sesak oleh rakyat yang berkumpul menyaksikan pertunjukan ujian sekolah kerajaan. Resi Drona, guru kaum ksatriya memimpin langsung jalannya ujian tersebut. Alun-alun kota itu tampak berantakan. Batu-batu hancur, tembok keraton putih berlobang dan retak, debu-debu masih membumbung ke angkasa menggambarkan betapa hebat ujian yang baru saja diperagakan murid-murid Resi Drona. Dretarasta, Raja Kurusetra didampingi oleh permaisuri beserta para punggawa kerajaan dan Pendeta serta para Dewi, termasuk Dewi Kunti permaisuri Raja Pandudewanata terkagum-kagum menyaksikan kehebatan anak-anak mereka dari podium ksatrian.
Ditengah alun-alun limabelas anak muda terengah-engah berdiri diatas kuda-kuda yang tak lagi begitu kuat. Duryodana berdiri dengan kaki bergetar dan bertopang pada pedang besar yang ia tancapkan ke tanah. Dursasana, saudaranya berdiri tak jauh darinya juga dengan nafas yang tersengal-sengal dan memegangi dada yang berdenyut keras. Arjuna bersimpuh ksatria (satu kaki berlutut, satu kaki lagi ditekuk) dengan pakaian compang-camping. Tangan kirinya memegang busur panah dengan gemetar dan tangan kananya bersiap untuk meraih anak panah dipunggungya. Bimasena, berdiri kokoh dibantu gada besi yang ia jadikan penopang tubuhnya. Namun keringat mengucur deras dari tiap pori-pori tubuhnya, dadanya turun naik mengatur nafas. Yudhistira berdiri tegak, matanya terpejam nafasnya tenang namun dari sela-sela bibirnya merembes cairan merah yang kental bercampur keringat. Tak jauh dari mereka bertiga berdiri si kembar, Nakula dan Sadewa berdiri beradu punggung, masih dengan kuda-kuda yang kokoh. Namun dari pancaran mata mereka, mereka ingin mengatakan bahwa tenaga yang mereka miliki sudah mendekati batas terakhir. Sementara putra-putra ksatriya lainnya tidak jauh berbeda dengan keadaan mereka. Bahkan ada yang bersandar ditembok keraton putih dan ada juga yang terduduk layu. Keadaan mereka semua hampir sama, kumal, compang camping, kelelahan, kehabisan tenaga dan kekuatan. Semua kesaktian telah dikeluarkan untuk melalui tiap tahab ujian yang diberikan Resi Drona. Secara kasat mata, sulit sekali menentukan mana yang lebih unggul diantara kelimabelas putra ksatria itu. Namun Resi Drona tentu punya penilaian lain.
“Pertandingan terakhir!” suara Resi Drona membahana ke seantero alun-alun. Orang-orang yang menyaksikan pertunjukan ujian ini mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya. Sepertinya mereka tidak yakin bahwa kelimabelas putra ksatria itu mampu melanjutkan pertandingan. Namun diluar dugaan rakyat, kelimabelas putra kstaria itu dengan tangkas berkumpul di hadapan podium ksatrian, siap menerima titah dari sang guru.
“Siapkan busur dan anak panah kalian. Ujian terakhir ini adalah ujian memanah. Prajurit akan menembakan cakram kayu ke udara, tugas kalian adalah memanahnya.”
Para Putra ksatria segera menyiapkan busur dan anak panah di punggung mereka. Dan dengan sigap mereka telah kembali keposisi masing-masing bersiap untuk membidik sasaran yang akan dilepaskan dihadapan mereka.
Slung!
Terdengar bunyi keras dari arah podium ksatrian, bersama meluncurnya sebuah benda berbentuk piring yang terbuat dari kayu.
Set!
Set!
Set!
Lima belas anak panah meluncur ke udara, memburu cakram kayu itu.
Tep! Tep! Tep!
Namun hanya sebuah anak panah yang berhasil menancap tepat ditengah cakram itu. Yang lainnya hanya mampu menancap di pinggirannya saja. Seorang prajurit berlari kearah cakram yang telah jatuh ketanah dan menyerahkannya kepada Resi Drona. Dengan teliti Resi Drona membaca nama-nama yang tertoreh dengan huruf dewanagari dimasing-masing anak panah itu.
“Pemenangnya adalah Arjuna!” kata Resi Drona yang disambut sorakan meriah dari para rakyat yang menyaksikan adu tanding tersebut. Para ksatrian yang duduk di podium ksatrian juga bertepuk tangan mendengarkan siapa pemenang dari perlombaan terakhir itu. Namun berbeda dengan Duryodana dan Dursasana. Mereka tampak tidak senang dengan ucapan Resi Drona.
Resi Drona memberi isyarat kepada para muridnya untuk berkumpul. Dengan cepat para putra ksatria itu berkumpul di depan podium ksatrian.
“Saudara-saudara rakyat Histanapura. Hari ini, saya Resi Drona, guru para putra ksatria, dengan bangga mengumumkan bahwa, kelimabelas putra ksatria lulus dari perguruan Istana Kurusetra!”
“Hore…!”
“Hidup Raja… Hidup Permaisuri… Hidup Ksatria…” terdengar sorak sorai rakyat diiringi deru tepuk tangan yang meriah.
“Dan saat ini, dengan bangga saya umumkan bahwa murid terbaik perguruan Istana Kurusetra saat ini adalah, Raden Arjuna!”
“Horeee… hidup Raden Arjuna” sorak sorai rakyat terdengar lebih meriah demi mendengar dan melihat ksatria pujaannya merupakan murid terbaik kerajaan. Dimata Rakyat Raden Arjuna memang seorang Ksatria berhati lembut dan baik terhadap rakyat.
“Rupanya hanya seperti itu ujian di Istana?!”
Tiba-tiba terdengar suara yang lebih membahana dibanding suara Resi Drona. Semua orang saling pandang dan bertanya siapa yang berani bersuara seperti itu. Ke limabelas Putra Ksatria bersiaga ditempatnya. Sedang raja, permaisuri, dewi dan pendeta di podium ksatrian saling pandang, keheranan. Rakyat Kurusetra terdiam dan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah tentu, orang yang berani lancang berbicara seperti itu akan dihukum mati. Hal ini membuat rakyat berkidik.
“Siapa? Harap tampakkan diri anda, jika anda seorang ksatria” jawab Resi Drona.
Tidak ada suara yang menjawab kata-kata Resi Drona. Namun tiba-tiba dari arah penonton, pasir dan debu beterbangan tergulung angin. Berputar-putar menuju kearah para putra ksatria berdiri. Tentu saja hal itu disambut oleh para putra ksatria dengan serangan yang tak kalah dahsyat. Serangan para putra ksatria yang menyambut gumpalan debu dan pasir, mempu menerbangkan bongkahan batu yang hancur dan tergulung dalam angin menghadang gumpalan debu dan pasir.
Bum!!!
Ledakan dahsyat terdengar begitu keras seolah mengguncangkan bumi dan merobohkan tembok keraton dan podium ksatrian. Debu dan pasir beterbangan menutupi pandangan mata. Butuh beberapa menit untuk menunggu udara kembali bersih. Ditengah-tengah alun-alun tak jauh dari kelimabelas putra ksatria bediri seorang pemuda. Ia tampan, dengan rambut terurai panjang sebahu tak beraturan yang berkibaran dipermainkan angin. Pemuda itu mengenakan pakaian zirah perang putih keemasan dengan anting-anting perang yang menambah ketampanan dan kegagahannya. Ia memegang busur panah berwarna hitam dan menyandang beberapa anak panah di punggungnya. Sementara itu, ke limabelas putra ksatrian terkejut melihat kenyataan bahwa serangan gabungan mereka tidak berpengaruh apa-apa terhadap orang yang menyerang mereka. Boleh jadi karena para putra ksatria tersebut telah kelelahan.
“Kisanak. Siapa dirimu? Dan apa maksudmu berbicara seperti itu?” Resi Drona bertanya.
“Hahahaha…. Resi Drona. Ternyata pengalamanmu di dalam istana megah ini tidak juga membuka matamu. Aku ingin bertanding dengan Arjuna!” jawab sang pemuda.
Semua orang terkejut. Apalagi Arjuna. Melihat kenyataan bahwa dia ditantang mentah-mentah oleh orang asing yang sama sekali tidak dia kenal. Arjuna melangkah ke depan barisan putra ksatria, mendekati sang penantangnya. Paras Arjuna dan sang penantang tidak jauh berbeda. Hanya saja, Arjuna terlihat lebih rapih dan bersih.
“Tunggu! Anak muda. Untuk bertanding ditempat ini, engkau harus memperkenalkan dirimu.” Sahut Resi Krepa, Pendeta Istana Raja.
“Baik. Dengar baik-baik. Namaku, Karna.” Jawab sang pemuda.
“Dari kaum manakah engkau? Apakah engkau dari kaum ksatria? Karena untuk menantang Raden Arjuna, hanya boleh orang yang berasal dari kaum ksatria.”
“Aku….” Karna tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia tertunduk. Apa yang harus ia katakan. Jika ia mengatakan dari kaum ksatria, ia tidak tahu dari silsilah keluarga ksatria mana ia berasal. Sedang kenyataannya ia adalah anak seorang kusir saja. Ia tidak ingin berbohong, walaupun harus mengorbankan harga diri.
“Hahaha… kenapa diam? Apakah engkau bukan dari kaum ksatria?” kata Arjuna.
Karna tetap diam. Ia hanya memandang melalui sela-sela rambut yang hampir menutup matanya. Orang itu yang telah menanamkan dendam di hati sejak ia kecil. Sekarang ia harus menelan kepahitan di depan orang yang lebih banyak lagi, menerima hinaan dari Arjuna, orang yang mirip dengannya.
“Jika engkau bukan dari kaum ksatria, silahkan menyingkir dari perlombaan ini. Carilah rumput untuk ternak mu atau kuda-kuda kami. Mungkin hidupmu lebih beruntung.” Kata Arjuna lagi.
Hinaan yang sama dengan lima tahun lalu, kini ia terima lagi. Kali ini di depan rakyat Kurusetra. Rasa malunya tidak tertahan. Apalagi ketika ia mulai mendengar sayup-sayup orang tertawa. Makin lama makin terdengar orang-orang dibelakangnya menertawakan dirinya. Karna tertunduk, semakin tertunduk.
“Mohon bicara, Ayahanda Prabu”
Tiba-tiba terdengar suara Duryodana. Karna melihat sosok tinggi besar bersenjata pedang dipinggangnya sedang bersimpuh hormat dihadapan Raja.
“Ada apa Duryodana?” jawab Raja.
“Ayahanda Prabu, menurutku keberanian dan kehebatan tidak hanya dimiliki oleh kaum ksatria saja. Kaum sudrapun memiliki banyak keberanian dan kesaktian. Bahkan, jangan-jangan mereka lebih berani dan hebat dibanding dengan kaum ksatria. Ijinkahlah anak muda itu ikut bertanding.”
Mendengar itu, hati Karna bagai tersiram air sejuk. Luka hati dan perasaan malunya berangsur-angsur pulih. Ia berani mengangkat mukanya dan memandang kepada raja, Resi Krepa, Resi Drona dan Arjuna. Siapa gerangan orang itu yang rela membelaku. Aku akan sangat berterimakasih padanya. Bisik Karna dalam hati.
“Anakku, aku mengerti. Tetapi itulah aturan yang kita jalankan di dunia ini. Jika Arjuna yang dari kaum Ksatria melawan anak muda itu dari Kaum Sudra maka hasilnya tidak akan seimbang dan tidak akan adil. Jika Arjuna menang, itu adalah hal yang wajar karena Arjuna memang seorang ksatria, namun jika Arjuna kalah, hal itu akan memalukan kaun ksatria yang lain. Dalam hal ini, menang atau kalah kaun ksatria tetap dirugikan. Apa engkau mengerti Duryodana, putraku?”
“Jika memang harus begitu, Ayahanda. Kabulkanlah permintaan putramu ini.”
“Apa permintaanmu, putraku? Singgasana inipun akan kuberikan padamu.”
“Ayahanda. Angkatlah anak muda itu menjadi Raja di wilayah Anggapura.”
Mendengar permintaan Duryodana, Raja tersentak kaget. Begitu juga dengan para Pendeta, Resi, Ksatria, Dewi dan segenap rakyat Histanapura. Karna tertegun atas pembelaan yang diberikan Duryodana. Ia belum mengenal Duryodana, tetapi mengapa ia begitu membelanya. Dalam hidup baru pertama kali ia dibela oleh orang lain. Hal ini kembali menumbuhkan semangat juangnya. Angin sejuk mulai merambah dihatinya, memberikan ketenangan dan harapan.
“Karna, kemarilah” titah Prabu Dretarasta.
Karna mendongakkan kepalanya. Semua orang mentapnya. Termasuk para putra ksatrian. Perlahan Karna melangkah menuju podium ksatrian. Langkah demi langkah ia pijakkan di setiap titian tangga menuju singgasana raja. Disana Pendeta Istana, Resi Krepa telah memegang sebuah mahkota raja wilayah.
“Dengarlah rakyat Histanapura, rakyat Kurusetra. Dengan ini, saya menobatkan Karna menjadi Raja Wilayah Anggapura, dengan gelar Adipati Karna, Raja Angga”
Penobatan yang sangat tiba-tiba itu mendapat sambutan dari rakyat dengan penuh tanda tanya. Namun demikian, rakyat perlahan tapi pasti bertepuk tangan meriah. Dan meneriakkan nama Adipati Karna.
“Hidup Adipati Karna.. Hidup Adipati Karna!”
Saat itulah, muncul Adirata karena mendengar anaknya dinobatkan menjadi Raja diwilayah Anggapura. Setelah karna turun dari podium ksatrian, Adirata memeluk dan mencium Karna.
“Anakku, terkabul sudah doa Ayah dan Ibumu nak. Akhirnya engkau bisa mengangkat harkat dan martabat keluarga” kata Adirata.
“Ayah, tenanglah. Ini hanya kebetulan saja. Bahkan aku belum melakukan apa-apa untuk menjadi raja. Semua ini berkat Duryodana yang berhati baik padaku.” Jawab Karna.
Kemudian karna menghampiri Duryodana yang berdiri memandanginya di barisan putra ksatria.
“Duryodana. Terimakasih telah membelaku. Aku memang dari golongan suta, namun engkau telah tampil membelaku sehingga sekarang aku menjadi ksatria sama seperti kalian.” Kata Adipati Karna sambil hendak berlutut untuk menyembah Duryodana. Namun segera Duryodana menangkap bahu Adipati Karna dan memintanya untuk kembali berdiri.
“Karna. Aku hanya ingin engkau menjadi sahabatku.” Ujar Duryodana lirih. Karna mengangguk pelan.
“Mulai saat ini, Aku bersumpah, apapun yang terjadi aku akan tampil membelamu, sahabatku Duryodana!” kata Karna yang disambut sorak sorai rakyat dan para putra ksatria kecuali Para Pandawa.
“Hahahah… tidak usah bangga, Karna. Engkau ternyata hanya anak Kusir. Sekarang secara kebetulan engkau diangkat menjadi raja wilayah hanya dengan satu alasan, supaya engkau dapatkan gelar ksatria dan pantas bertanding melawan Arjuna. Hahahah…”
“Tutup mulutmu, Bimasena!” teriak Duryodana kearah Bimasena yang baru saja menghina Karna. Kembali Karna mendapat pembelaan dari sahabat barunya.
“Ada apa Duryodana? Apa kamu ingin menjadi kusir juga? Hahahah…” teriak Bimasena
“Kakang, sudahlah.” Bisik Arjuna sambil memegang lengan besar Bimasena.
“Jadi, Resi Drona, bisakah kami bertanding sekarang?” tanya Arjuna sambil berpaling ke arah Resi Drona yang tampaknya masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, di jajaran para dewi, Dewi Kunti yang telah mengenali pemuda asing yang menantang putranya, diam-diam meneteskan air mata. Karna adalah anak yang dulu ia buang ke sungai. Dan kini anak itu muncul di pihak yang berlawanan dengan para putranya. Ia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi terhadap kedua anaknya tersebut. Ia pun pingsan di singgasananya. Saat itu, senja telah tiba dan sebentar lagi malam menjemput. Temaram dan tegangnya suarana sore itu membuat tidak ada seorangpun yang menyadari Dewi kunti telah pingsan di singgasananya.
“Arjuna, matahari telah terbenam. Waktu pertandingan ini telah habis. Jika kalian ingin bertanding, datanglah lagi dipertandingan tahun depan.” Sahut Resi Krepa. Arjuna hanya menganggukan kepala pertanda setuju. Ia memalingkan pandangannya ke arah Adipati Karna. Disana, disamping Duryodana, Adipati Karna tersenyum penuh kemenangan. Sementara rakyat telah membubarkan diri, para putra ksatria juga mulai membubarkan diri. Perlahan Raden Arjuna menghampiri Adipati Karna.
“Jangan bangga dulu, Adipati. Dimataku, engkau tetaplah anak kusir” bisik Arjuna didekat telinga Karna.
“Dihatiku, engkau adalah satu-satunya orang yang paling ingin ku singkirkan dari marcapada ini” balas Karna. Mereka berpisah dengan masing-masing meninggalkan senyuman sinis di sudut bibir. Para Arjuna pulang ke tempat kediaman mereka, dan para Kurawa juga meninggalkan tempat itu menuju kediaman mereka diikuti oleh Adipati baru, Adipati Karna.
Putri Pancala
Kerajaan Pancala terletak disebelah timur Kurusetra. Keduanya dipisahkan oleh hutan Naimisha. Sebuah hutan lebat yang tak terjamah oleh manusia, selain ditumbuhi kayu-kayu besar dan rapat hutan itu juga dihuni oleh binatang buas dan perampok-perampok ganas sakti mandraguna. Selain itu didalam hutan juga terdapat sungai deras berbatu yang dihuni puluhan buaya. Dari keadaan alam saja sudah bisa diterka dua kerajaan bertetangga itu akan sulit berhubungan.
Kerajaan Pancala dipimpin seorang raja bijaksana bernama Prabu Drupada. Ia memiliki seorang putri cantik bernama Drupadi. Kecantikan Putri Drupadi terkenal sampai ke negeri-negeri tetangga. Banyak Pangeran yang datang melamar Putri Drupadi, namun baik Prabu Drupada maupun Putri Drupadi belum juga memutuskan untuk menerima lamaran dari salah satu Pangeran-pangeran yang datang. Hal ini tentu menimbulkan masalah tersendiri bagi kerajaan. Jika Prabu Dropada ataupun Putri Drupadi menolak lamaran, salah salah bisa menimbulkan peperangan. Oleh karenanya Raja harus membuat sebuah kebijakan.
Sore itu Putri Drupadi tengah menikmati aura kuning emas matahari. Pantulan sinar keemasannya membuat hamparan hutan dan istana menguning. Sungai ditengah hutan yang meliuk keemasan. Melihat dan menikmati pemandangan dan suasana seperti itu sungguh menenangkan jiwa. Sejenak semua beban dan masalah akan sirna oleh keindahan Panorama alam perbatasan itu. Putri Drupadi duduk didepan jendela kamarnya yang dihias kain sutra dan bunga-bunga beraneka ragam tepat di sotoh Istana kamarnya. Ia mengenakan gaun putih ringkas yang memperlihatkan kemulusan kulit sang putri. Diterpa sinar keemasan matahari, menambah kecantikannya. Rambutnya yang panjang digulung keatas yang ditahan dengan tusuk konde emas. Sedang kaki jenjangnya yang bagus saling tumpang tindih diatas sebuah bantal yang disulam benang emas. Mata Putri terpejam, napasnya teratur membuat dadanya yang membusung bagus bergerak naik turun perlahan. Sebuah senyum tipis menghias bibir tipisnya. Kecantikannya sungguh pantas disejajarkan dengan para Dewi atau bidadari. Pantaslah jika kecantikannya mengundang para pangeran datang.
“Drupadi….”. Suara besar dan penuh wibawa datang dari pintu kamar.
“Ayah…”. Sahut Drupadi segera merapikan pakaian dan cepat cepat berlutut didepan Ayahnya.
“Berdirilah, anakku”. Kembali suara yang penuh wibawa itu mengiang ditelinga Drupadi. Putri itupun berdiri, menundukkan kepala. Tak sanggup ia menatap wajah Ayah dan rajanya.
“Apakah ada yang penting, Ayah. Sehingga Ayah sampai datang ke kamar hamba.” Tutur Drupadi penuh hormat.
“Ini soal pangeran pangeran yang datang melamarmu. Sampai sekarang mereka belum kita berikan jawaban.” Sejenak Raja menarik nafas. Sang Putri terdiam menunggu kata-kata Raja selanjutnya.
“Jika kita tidak segera menjawab lamaran mereka, Ayah khawatir mereka akan marah dan memerangi kita.” Raja Dropada kembali menarik nafas berat.
“Ayah mendapat petunjuk dari Sang Hyang Widhi, untuk mengatasi masalah ini.”
Putri Drupadi mengangkat kepalanya, memandang wajah Ayahnya sejenak. Memastikan kesungguhan Ayahnya.
“Kita akan membuat Sayembara kekuatan dan ketangkasan. Para pangeran yang ingin mempersuntingmu harus mengikuti sayembara ini. Siapa yang keluar sebagai pemenang, ia yang berhak menjadi suamimu.”
“Sayembara semacam apa yang Ayah ingin rencanakan?” Tanya Drupadi.
“Sayembara memanah patung ikan berjalan memutar ditengah kolam dengan menggunakan busur pusaka Kerajaan.” Jawab Prabu Drupada seolah bergumam.
“Namun Ayah, kita tahu Pangeran-pangeran itu memiliki Ilmu yang tinggi. Belum lagi jika mereka mengandalkan Panglima perang atau orang andalannya. Bagaimana jika banyak Pangeran mampu mengangkat busur pusaka Kerajaan?” Kata Putri Drupadi. Mimik wajahnya memperlihatkan kekuatiran yang mendalam. Ini bukan saja menyangkut masa depannya. Ini menyangkut keselamatan kerajaan dan rakyatnya. Jika dalam sayembara inipun ada hal yang dirasakan tidak adil bagi salah satu Peserta, tentu ia akan menuntut. Salah-salah akan pecah peperangan. Dan tentu akan mengorbankan rakyatnya. Dan ia tidak mau hal itu terjadi.
Prabu Drupada terdiam sejenak. Keningnya berkerut dan matanya terpejam. Ia menghela nafas sejenak. Kemudian melangkah ke pagar sotoh Istana kamar Putrinya. Matanya menyapu pemandangan indah nan eksotik jauh di hadapannya.
“Anakku, jika begitu peserta sayembara itu harus adu tanding terlebih dahulu. Barang siapa yang tidak sanggup melanjutkan adu tanding, ia kalah. Namun barang siapa yang masih kuat ia berhak untuk menggunakan busur pusaka kerajaan. Itupun jika ia masih memiliki simpanan tenaga. Bagaimana, Putriku?” Raja balik bertanya.
Sang putri tampak terdiam. Kemudian tampak senyum tipis dibibirnya yang kemerahan. Ia mengangguk pelan tanda setuju. Sang Rajapun tersenyum melihat Putrinya setuju dengan idenya. Ia melangkah mendekati Putrinya membelai rambutnya.
“Kamu cantik sekali Putriku, pantas saja para pangeran negeri-negeri tetangga itu tergila-gila padamu.” Kata Drupada memuji kecantikan Putrinya.
“Ayah bisa saja.” Sahut Drupadi pelan dan menundukkan kepala. Mendadak pipinya berwarna kemerahan. Jarang sekali Ayah memuji. Pikirnya dalam hati. Putri Drupadi mendekatkan dirinya ke tubuh Ayahnya. Prabu Drupada pun memeluk erat putrinya.
“Satu hal yang perlu kamu ingat Nak. Siapapun nanti yang keluar menjadi pemenang sayembara ini, betapapun digdayanya kemampuannya, ia belum tentu orang yang baik untuk menjadi suami dan pemimpin keluargamu. Berhati-hatilah. Bersemedi, tanyalah pada Sang Hyang Widhi.” Bisik Prabu Drupada di telinga kiri putrinya. Sang Putri hanya mengangguk pelan dan mempererat pelukannya pada tubuh Ayah sekaligus Rajanya.
Hari mulai gelap. Sinar keemasan yang tadi merajai rimba belantara dan sungai-sungai dibawah sana mulai sirna. Kegelapan dimana-mana mulai datang dan merajai alam. Seolah tidak ada yang sanggup mencegah pemandangan yang serba gelap itu. Terlihat hanya sungai berwarna putih meliuk-liuk dan hilang dikegelapan hutan.
Sumber : http://mahabhrata.wordpress.com/
No comments:
Post a Comment