Search This Blog

Saturday, August 2, 2008

Apakah Imsak Memiliki Dalil Dari As-Sunnah Ataukah Merupakan Bid'ah?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kami melihat beberapa almanak di bulan Ramadhan dituliskan padanya bagian yang disebut “imsak” yang dijadikan sebelum shalat shubuh kurang lebih sepuluh menit, atau seperempat jam, apakah hal ini memiliki dalil dari sunnah ataukah merupakan bid’ah ? Berilah fatwa kepada kami, mudah-mudahan anda mendapat pahala.

Jawaban
Hal ini termasuk bid’ah, tiada dalilnya dari sunnah, bahkan sunnah bertentangan dengannya, karena Allah berfirman di dalam kitabnya yang mulia.

“Artinya : Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang merah dari benang putih yaitu fajar” [Al-Baqarah : 187]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, makan dan minumlah sampai Ibnu Umi Maktum mengumandangkan adzan, karena dia tidak beradzan sampai terbit fajar” [1]

Imsak yang dilakukan oleh sebagian orang itu adalah suatu tambahan dari apa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga menjadi kebatilan, dia termasuk perbuatan yang diada-adakan dalam agama Allah padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.

“Artinya : Celakalah orang yang mengada-adakan! Celakalah orang yang mengada-adakan ! Celakalah orang yang mengada-adakan ! “ [2]

SEBELUM NAIK PESAWAT MATAHARI SUDAH TENGGELAM LALU IA BERBUKA, SETELAH PESAWAT LEPAS LANDAS DIA MELIHAT MATAHARI, APAKAH HARUS MENAHAN DIRI DARI MAKAN MINUM ?

Pertanyaan
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang menyaksikan tenggelamnya matahari, muadzin pun mengumandangkan adzan sedangkan saat itu dia berada di Bandar Udara lalu dia berbuka puasa, sesudah pesawat yang ditumpanginya lepas landas dia melihat matahari, apakah dia harus menahan diri dari makan dan minum?

Jawaban
Jawaban kami terhadap kasus ini adalah dia tidak wajib menahan diri (berpuasa lagi), karena waktu berbuka datang tatkala mereka masih berada di daratan, matahari sudah tenggelam ketika itu dan mereka berada di tempat tenggelamnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila malam datang menyongsong dari sana dan siang telah meninggalkan dari arah sana, juga matahari telah tenggelam, maka orang yang berpuasa boleh berbuka” [3]

Apabila dia berbuka berdasar tengelamnya matahri sedangkan saat itu dia berada di Bandar Udara (Airport) maka berakhirlah harinya, jika harinya telah berakhir maka dia tidak lagi wajib menahan diri dari makan dan minum kecuali pada hari berikutnya.
Atas dasar ini, dia tidak wajib menahan diri dalam kondisi ini, karena berbuka puasa sudah sesuai dalil syariat sehingga tidak diwajibkan atasnya berpuasa lagi kecuali dengan dalil syariat pula.

[Disalin dari kitab Majmu Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah Dan Ibadah, Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, terbitan Pustaka Arafah]
__________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum/Bab Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Janganlah mencegah kalian benar-benar …” (1918) dan Muslim : Kitab Shiyam/Bab Keterangan bahwa masuknya waktu puasa ditandai dengan terbit fajar …” (1092)
[2]. Diriwayatkan oleh Muslim : Kitab Ilmu/Bab Celakanya orang-orang yang mengada-adakan (2670)
[3]. Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum/Bab Berpuasa dan berbuka dalam bepergian (1941)


Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/1960/slash/0

Apa Hikmah Diwajibkan Puasa ?

Oleh

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah hikmah dari diwajibkannya pausa ?

Jawaban
Apa bila kita membaca firman Allah Azza wa Jalla.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” [Al-Baqarah : 183]

Pasti kita mengetahui apa hikmah diwajibkan puasa, yakni takwa dan menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, takwa adalah meninggalkan keharaman, istilah itu secara mutlak mengandung makna mengerjakan perintah, meninggalkan larangan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

Artinya : Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan mengerjakan kedustaan, maka Allah tidal butuh kepada amalannya dalam meninggalkan makanan dan minumannya” [1]

Berdasarkan dalil ini diperintahkan dengan kuat terhadap setiap yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban, demikian juga menjauhi hal-hal yang haram baik berupa perkataan maupun perbuatan, hendaknya dia tidak menggunjing orang lain, tidak berdusta, tidak mengadu domba antar mereka, tidak menjual barang jualan yang haram, menjauhi segala bentuk keharaman, apabila seorang manusia mengerjakan semua itu dalam satu bulan penuh maka itu akan memudahkannya kelak untuk berlaku baik di bulan-bulan tersisa dalam setahun.

Tetapi alangkah sedihnya, sebagian besar orang yang berpuasa tidak membedakan antara hari puasa dengan hari berbuka, mereka tetap menjalani kebiasaan yang biasa dijalaninya yakni meninggalkan kewajiban, mengerjakan pebuatan haram, tidak merasakan keagungan puasa ; perbuatan ini tidak membatalkan puasa tetapi mengurangi pahalanya, seringkali kesalahan itu merusak pahala puasa sehingga tersia-sialah pahalanya.


[Disalin dari kitab Majmu’ Fatawa Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Penerbit Pustaka Arafah]
_________
Foote Note
[1].Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab Shaum, Bab : Orang yang tidak meninggalkan kata-kata dusta, megerjakannya (1903)




Sumber : : http://www.almanhaj.or.id/content/1623/slash/0

Wednesday, July 30, 2008

Bandung Indonesia, the old pictures..

Do you wanna see bandung (Indonesia) in 1920-1950?
see this

1. Police Office Merdeka



2. Post Office


3. Old Braga

4. Prapatan Lima...Prapatan five


5. Postweg


6. Old Braga


7. Hotel Homann


8. Institute Techonology Bandung


9. Old Braga


10. Kabupaten Bandung



11. Center Point of Bandung (alun-alun)


12. Asia Afrika Street.



13. Banceuy Street


14. Elita Theater



15. Braga Street

Thursday, July 24, 2008

Why do doctors wear green or blue scrubs

Asks Jillian from Philadelphia

By Susannah F. Locke, posted July 21st, 2008.

Scrubs used to be white—the color of cleanliness. Then in the early twentieth century, one influential doctor switched to green because he thought it would be easier on a surgeon’s eyes, according to an article in a 1998 issue of Today’s Surgical Nurse. Although it is hard to confirm whether green scrubs became popular for this reason, green may be especially well-suited to help doctors see better in the operating room because it is the opposite of red on the color wheel.

Green could help physicians see better for two reasons. First, looking at blue or green can refresh a doctor’s vision of red things, including the bloody innards of a patient during surgery. The brain interprets colors relative to each other. If a surgeon stares at something that’s red and pink, he becomes desensitized to it. The red signal in the brain actually fades, which could make it harder to see the nuances of the human body. Looking at something green from time to time can keep someone’s eyes more sensitive to variations in red, according to John Werner, a psychologist who studies vision at the University of California , Davis .

Second, such deep focus on red, red, red can lead to distracting green illusions on white surfaces. These funky green ghosts could appear if a doctor shifts his gaze from reddish body tissue to something white, like a surgical drape or an anesthesiologist’s alabaster outfit. A green illusion of the patient’s red insides may appear on the white background. (You can try out this “after effect” illusion yourself.) The distracting image would follow the surgeon’s gaze wherever he looks, similar to the floating spots we see after a camera flash.

The phenomenon occurs because white light contains all the colors of the rainbow, including both red and green. But the red pathway is still tired out, so the red versus green pathway in the brain signals “green.”

However, if a doctor looks at green or blue scrubs instead of white ones, these disturbing ghosts will blend right in and not become a distraction, according to Paola Bressan, who researches visual illusions at the University of Padova in Italy .

So, although doctors trot down the street these days in a rainbow of patterned and colored scrubs, green may be a doctor’s best bet.

Experience illusions:

Where do you spent holidays?, see this resort pics...